Sabtu, 12 Maret 2011

Pendidikan Karakter

Nilai-nilai dasar pendidikan karakter yang harus diajarkan adalah:
•1. Bertakwa (religious)
Para guru harus mampu mengarahkan anak didiknya menjadi manusia yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Mampu melaksanakan perintah-Nya, dan mampu pula menjauhkan segala larangan-Nya. Orang yang bertakwa akan sadar-sesadarnya bahwa dirinya hanya hamba Tuhan yang harus bertanggungjawab dengan apa yang telah dilakukannya di dunia. Kegiatan seperti tadarus dan sholat berjamaah adalah merupakan contoh dari kegiatan meningkatkan keimanan dan ketakwaan peserta didik.
•2. Bertanggung jawab (responsible)
Para guru harus mampu mengajak para peserta didiknya untuk menjadi manusia yang bertanggungjawab. Mampu mempertanggungjawabkan apa yang telah dilakukannya dan berani menanggung segala resiko dari apa yang telah diperbuatnya. Rasa tanggung jawab ini harus ada dalam diri para peserta didik kita. Kegiatan seperti pentas seni adalah merupakan salah satu bentuk dimana siswa atau peserta didik diberi tanggung jawab dalam mengelola sebuah kegiatan seni.
•3. Berdisiplin (dicipline)
Para guru harus mampu menamkan disiplin yang tinggi kepada para peserta didiknya. Kedisiplinan harus dimulai pada saat masuk sekolah. Budaya tepat waktu harus ditegakkan. Siapa yang terlambat datang ke sekolah harus terkena sanksi atau hukuman sesuai dengan peraturan tata tertib yang berlakuk di sekolah. Sioswa harus diajarkan disiplin, dengan demikian dia kan terbiasa disiplin dalam kehidupannya. Contoh yang paling mudaha adalah tepat waktu. Siswa harus dididik untuk mampu tepat waktu.
•4. Jujur (honest)
Kejujuran saat ini merupakan hal yang langka. Para guru harus mampu memberikan contoh kepada para peserta didiknya untuk mampu berlaku jujur. Ketika jujur diajarkan di sekolah-sekolah kita, maka para peserta didik tak akan berani berbohong karena telah terbiasa jujur. Kebiasaan jujur ini jelas harus menjadi fokus utama dalam pendidikan di sekolah. Sebab kejujuran telah menjadi barang langka di negeri ini. Timbulnya korupsi, kolusi, dan nepotisme adalah akibat dari karakter jujur yang kurang terpelihara dengan baik.
•5. Sopan (polite)
Mampu berperilaku sopan adalah dambaan setiap insan. Dengan berlaku sopan orang lain akan segan kepada kita. Karakter sopan ini harus dilatihkan kepada peserta didik, dan dicontohkan bagaimana cara berlaku sopan kepada orang lain. Terutama kepada mereka yang telah lebih tua daripadanya. Tentu karakter kesopanan harus diperlihatkan dan dijunjung tinggi. Seringkali kita melihat karkater anak sekolahan yang kurang sopan. Baik dalam berbicara mamupun bertindak. Hal inilah yang harus kita rubah dalam pendidikan karakter bangsa.
•6. Peduli (care)
Peserta didik harus dilatih untuk peduli kepada sesama. Belajar melakukan empati kepada orang lain dengan rasa kepedulian yang tinggi. Ketika kita mau peduli, maka saudara-saudara kita yang sedang mengalami kesulitan akan terbantu. Di situlah akhirnya jiwa kepedulian kita teruji. Banyaknya musibah yang silih berganti di negeri ini, baik musibah bencana alam maupun bencana lainnya harus membuat kita semakin peduli dengan bangsa sendiri.
•7. Kerja keras (Hard work)
Peserta didik harus dilatih untuk mampu bekerja keras. Bukan hanya mampu bekerja keras, tetapi juga mampu bekerja cerdas, ikhlas, dan tuntas. Dengan begitu kerja keras yang dilakukannya akan bernilai ibadah di mata Tuhan pemilik langit dan bumi. Orang yang senang bekerja keras pastilah akan menuai kesuksesan dari apa yang telah dikerjakannya. Orang yang bekerja keras pasti mampu meujudkan impiannya menjadi kenyataan.
•8. Sikap yang baik (good attitude)
Peserta didik harus memiliki sikap yang baik. Dengan sikap yang baik akan terlihat karakter dari peserta didik tersebut. Sikap yang baik kepada orang lain harus dicontohkan oleh guru kepada para peserta didiknya. Dengan begitu orang lain akan menaruh hormat kepadanya karena sikapnya yang baik. Perilaku orang dapat dilihat dari sikap baik yang dimunculkannya. Oleh karenanya sikap yang baik harus diajarkan para guru dalam pendidikan karakter di sekolah.
•9. Toleransi (tolerate)
Peserta didik harus dilatih agar mampu bertoleransi dengan baik kepada orang lain. Toleransi harus dipupuk sejak dini, apalagi kepada hal-hal yang bernuansa Suku, agama, Ras, dan antar golongan (SARA). Perlu tolerasi yang tinggi agar mampu memahami kalau kita berbeda tetapi hakekatnya tetap satu juga. Toleransi antar umat beragama adalah salah satu bentuk toleransi yang paling jelas terlihat dalam kehidupan sehari-hari.
•10. Kreatif (Creative)
Peserta didik harus diajarkan agar mampu kreatif. Dengan begitu dia telah terbiasa menciptakan sesuatu yang baru. Guru kreatif akan menghasilkan peserta didik yang kreatif pula. Ajarkan peserta didik kita agar mampu kreatif dalam menjalankan aktivitas kesehariannya. Anak kreatif tidak lahir begitu saja. Dia lahir dari proses pendidikan yang berkelanjutan.
•11. Mandiri (independent)
Anak yang terbiasa mandiri biasanya akan jauh lebih berhasil hidupnya daripada anak yang kurang mandiri. Mandiri bukan hanya mampu berdiri di atas kakinya sendiri, tetapi juga mampu membawa dirinya untuk tidak bergantung penuh kepada orang lain. Kemandirian harus ditanamkan kepada para peserta didik kita bila ingin anak menjadi mandiri.
•12. Rasa Ingin Tahu (curiosty)
Setiap anak pasti memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Tentu sebagai guru kita dituntut untuk mampu mengarahkan rasa ingin tahu mereka kearah hal-hal yang positif seperti rasa ingin tahu mereka tentang bumi dan antariksa yang ilmunya terus berkembang seiring dengan pesatnya perkembangan ilmu pengatahuan dan teknologi. Bila peserta didik memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, amak itu adalah modal dasar untuk menjadi seorang ilmuwan muda dan kaya. Rasa ingin tahu ini harus terus dimotivasi agar para peserta didik kita mampu juga meneliti di usia remaja.
•13. Semangat Kebangsaan (Nationality Spirit)
Para peserta didik harus didorong memiliki semangat kebangsaan. Dengan begitu akan ada rasa bangga kepada bangsanya sendiri. Contoh yang paling mudah dari semangat kebangsaan adalah sepakbola. Dengan permainan sepakbola, para pemain dan penonton dituntut harus memiliki semangat kebangsaan yang tinggi. Apalagi bila kita bermain di negeri orang lain.
•14. Menghargai (Respect)
Peserta didik harus mampu menghargai hasil karya orang lain yang dilihatnya. Dengan begitu ada penghargaan yang diberikan olehnya kepada orang lain. Saling menghargai merupakan cerminan budaya bangsa yang harus dilestarikan secara turuh temurun. Mengharagai pendapat orang lain adalah salah satu contoh dari karakter saling menghargai sesama.
•15. Bersahabat (Friendly)
Ketika peserta didik sudah terbiasa bersahabat, maka akan terasalah pentingnya sebuah persahabatan. Bersahabat adalah karakter penting yang harus dimiliki oleh para peserta didik. Kita harus memupuk rasa persaudaraan yang tinggi. Bila kita saling bersahabat, maka kita akan semakin dekat dan akrab. Dengan begitu akan semakin dekatlah hati kita masing-masing. Persahabatan bagai kepompong yang akan mengubah ulat menjadi kupu-kupu. Sungguh indahnya sebuah persahabatan.
•16. Cinta damai (Peace Ful)
Peserta didik harus cintai damai. Cinta mencintai antar sesama anak manusia. Kita semua bersaudara dan tidak selayaknya kita saling bertengkar. Kita cinta damai, tepai kita pun cinta kemerdekaan. Siapa saja bangsa yang mengusik kemerdekaan kita, maka kita akan melawannya dengan gagah perkasa karena kita lebih mencintai bangsa sendiri.

Cerpen Banjar


Pemikat Iwak
Ahad ni mang Nandar bajanjian lawan Aku, handak malunta ka-rawa parak hutan galam. Disitu banyak banar iwaknya, matan sapat sampai taka haruan ada disitu.  Bilang saban hari urang mancari iwak kasitu, banyak banar taulihnya. Ia kada habis – habis. Magin mun surut banyunya, tangan mancibuk gin taulih iwak.
Mang Nandar ni asli urang Madura, sidin marantau ka Kalimantan ni umpat pamannya bagawi ma-ulah bata. Mun tuntung bagawi biasanya sidin tu malunta, sidin  katuju banar bacari iwak. Harat tu pang. Handak mancing, mamair, malunta, manangguk, barataannya sidin bisa, maka pasti kulihi ha pulang.
Urang di kampung ni barataan kagum banar wan sidin, tahu bisi ilmu napakah sidin tu jadi iwak – iwak tu katuju banar baparak lawan sidin. Pas bulik bagawi, aku singgah karumah sidin. Sidin bakisah semalam kulihi haruan banyak, aku handak jua umpat sidin, handak bisa jua tu kaya sidin. Napa mun aku mancari iwak, mamancingkah , pasti kada taulih, amun kulihi gin paling saikungannya.
“Mang, oooo mang, Mang Nandar, dimana pian.” Kuriak – kuriak ku mancari-i Mang Nandar.
“Woi, aku di belakang” sahut Mang Nandar matan dapur.
“Napa Mang diulah? Umai, manyiangi iwak sakalinya,”
“Hi-ih na, iwak semalam balum ta-ulah lagi”
“Saitu ja kah Mang dapatnya?”
“Tu ada ai di bak kamar mandi, ganal banar tuh”
“iya-kah mang?”
Bajalan ai aku ka kamar mandi handak malihat iwak haruan nang ganal banar jar Mang Nandar tadih. Mbah sampai ku janguk ai.
 “Astagfirullah!”
“Aaaaaaaa aaaaaa! borenya, siapa garang tuh. Waninya manyu-uk aku mandi?!”takuriak urang nang di kamar mandi, takajut aku, sakalinya si Atul mandi.
“Maaplah aku kada sengaja, kira ku kadada orangnya”
“Dusta!, bintitan ikam mun badusta” manyumpah atul ka-aku.
“Ha-ha-ha-ha, kayapa Nang ganallah haruannya?” ujar Mang Nandar.
“Bore banar pian tu, kira lun bujuran haruan, sakalinya si Atul. Bujur pang ganal tapi pang , bisa dipukuli urang, ulun, Mang ae” ujar ku takutan wan gugup – gugupnya.
Hancap Atul mamasang katapih, bukah karumah, supan banar kayanya, aku gen supan, takutan nang iya-nya. Mang Nandar ni wan Pamannya bagawi lawan abahnya Atul, bahiga-an rumahnya tu, jadi kamar mandi ni sabuting ja bagantian. Amun di kampung kami kamar mandi tu diluar tapisah lawan rumah, diulahnya gen papan ulin nang tingginya sedada ja, jadi nyaman banar mun urang manjinguk. Tapi kadada pang kaitu dikampungku.
“Gara – gara pian ni Mang, bisa dihamuk lun lawan Atul. Kira handak bujur – bujur manyuuk inya mandi”
“Santai ja Nang, kaina aku nang madahakan lawan inya,”
“Napa Mang jadi pian nyuruhakan lun malihat kakamar mandi, padahal pian tahu ada Atul mandi?”
“Aku ni bagaya haja Nang ai, kiraku ikam kada bujur – bujur handak malihat. Ikam kada mandangarkah jibur – jibur inya mandi, jadi ku kada menagur”
“He, supan lun Mang ai. Tapi luculah, hanyar ninih lun talihat babinian mandi,”
“Kada bebaju kah Nang?, napa talihat?”
“Bore pian tu, kadada ah talihat napa – napa”
***
Tulak ai aku dua Mang Nandar karawa handak malunta, kada nyaman ai tadi aku lalu rumah si Atul supan jua mun tatamu, untungnya inya kadada tadi tuh.
“Kayapa Mang semalam Atul, sarikkah inya?”
“Kada ai, malah kuhuluti inya, bagaya-an ai tadi, kada sarik kada”
“Sukur ai mun kaitu, hara lun mun inya sarik, kena ngalih lun tatamu di pangajian, kada nyaman jua mun dilihat urang kada bataguran, maka rancak bagayaan badua”
“Napa Nang handak kah lawan Atul?”
“Kada ah Mang ae” supan aku manjawap,” kenapa yo jadi Mang Nandar batakun kaitu “ jar ku dalam hati.
Lawas bajalan, sampai ai kami di Rawa.
“Disebelah mana  Mang kita maluntanya?”
“Diparak puhun jingah tu banyak banar haruan ganalnya Nang ai,”
“Ya-kah Mang, lakasi nah kita kesituan”
Bajalan ai kami kasitu, puhun jingah nie ganal banar, liwar ganalnya, labat ha pulang daunnya. Marinding aku baparak kasitu.
“Amun handak dapat iwak banyak Nang, ulah api unggun dibawah puhun tu” Mang Nandar manunjuk ka puhun jingah nang ganal tu.
“Iya-kah Mang?, tapi lun kada bawa mancis nah,”
“Ni aku bawa ai”
Ku ulah ai api unggun di bawah puhun tu, nang kaya jar Mang Nandar. Pina ngalih banar ku manyalai mancisnya, kada mau hidup jua apinya. Magin takutan aku, ujar urang bahari mun api tu kada hakun manyala artinya ada urang halus jar. Bujur jua pang urang halusnya banyak kaya nyamuk, samut, wan kararangga. Mangarubuti aku.
Lawas aku manyalai api tu, mau ai dah banyala. Turun ai aku ka banyu mandatangi Mang Nandar umpat jua malunta. Banyak banar kami dapatnya, bujur rupanya jar Mang Nandar. Gara – gara maulah api unggun tu banyak kami kulihi iwak.
“Banyala api tadi lah Nang?”
“Geh benyala ai Mang, Kenapa Gerang mang jadi harus maulah api unggun dulu?”
“Kena ikam tahu ja, aku kaitu tarus pang makanya banyak lo kulihi iwaknya.”
“ujar siapa garang Mang nitu, magin penasaran aku wan jawaban Mang Nandar.
“Jar abah ku, nitutu pamikat iwak, amun kita bacari iwak, ada pohon ganal harus maulah api unggun, pasti banyak to kena kulihi iwaknya”
“Oh kaitu kah, adat buhan pian kah kaitu?”
“Kada jua. Banyak dah dapat iwaknya, kita naikan nah”
Parak dua jam kami bacari iwaknya. Banyak banar kulihi iwaknya parak satangah karungan. Naik ai kami, dingin jua pang kalawasan barandam dibanyu.
“Si Nang kita ka api unggun”
“Kada papa lah Mang?” takutan aku handak baparak.
“Kada papa ai, ikam laparlah Nang?”
“Lapar ai Mang, uyuh Mang ai, tapi puas ai ta-ulih iwak banyak pang”
Mang Nandar ma-ambil haruan nang taganal dua ikung. Lalu disianginya iwak tadih.
“kita bakar iwak na Nang, tahulah, ini pang gunanya maulah api unggun, sagan mambakar iwak wan ba-api – api”
“Hah!, maka jar pian tadi sagan sarat?”
“Hi-ih, sarat amun kelaparan nyaman membakar ya lo, kada lapah ge manyala-i. Ha-ha-ha-ha!”
“Dasar pian nih, kira lun bujuran nitu sagan sarat”
“Ha-ha-ha, santai ja Nang, bagaya ja aku”
Tapakalah tarus aku lawan Mang Nandar nih, napa kananya tarus aku mun di dustainya. Mun bapandir pina iya, jadi kiraku bujuran. Ini nih Mang Nandar nang kepintarankah atau aku Nang bungul!

Jumat, 11 Maret 2011

Kepergian Sahabatku

Yasin .......,
walqurannilhakim .......,
innakalaminalmursalin ...,
alasirotimmustakim ...,

Sayup - sayup suara menyapu gendang telingaku, terus menerus dengan fasih dan khusuknya melantunkan ayat - ayat itu. Begitu merdu kudengar, memberi ketenangan dalam batiku. perlahan kubuka mata, sejenak aku terpaku,
"Dimana aku? apa yang telah terjadi?" aku mencoba mengingat semuanya.
"Mamaaaaaaa...!," aku berteriak.
"Alhamdulillah, kamu sudah sadar nak. kamu tidak apa - apa?"
mama bergegas menghampiriku, kulihat kitap suci ditangannya. rasa lemas masih melanda tubuhku yang terbaring di atas ranjang kesayanganku.
"mana Yuli ma? dimana dia?, apa dia baik - baik saja??"
dengan cemas kata - kata itu keluar dari mulutku.

“Sabar  ya nak!” Mama mengelus rambutku.
“Ada apa ma?” Aku semakin cemas.
“Yuli telah menghadap yang kuasa , yang sabar ya nak mungkin ini sudah takdirnya.”
Petir menyambar tubuhku, meremukan tulang – tulang dan hampir memutuskan urat nadiku. Banjir bandang pun menerjang kelopak mataku, mengucur deras air mataku.
“innalilallhi wainailaihi roji’un”
Ya Allah benarkah yang ku dengar, tak kuasa aku menahan air mataku. Mengapa ini terjadi, andai saja aku bisa menyelamatkannya, mungkin dia tak akan pergi dengan keadaan seperti ini.
Aku ingat peristiwa itu, saat itu dia berteriak – teriak minta tolong mengejutkanku yang saat itu sedang duduk ditepi danau. Tak kulihat wajahnya hanya tangan melambai – lambai memanggilku untuk menjemputnya. Tanpa piker panjang aku langsung terjun ke danau . setelah aku berada dalam kubangan air aku baru menyadari kalau aku tidak bisa berenang. Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan, jangankan untuk menyelamatkan Yuli, aku saja tidak yakin aku akan selamat. Dalam rangkulan air tak kudengar lagi suaranya. Kini aku yang berusaha berteriak meminta tolong tapi aku tak mampu mengeluarkan suara. Aku berusaha menggerak – gerakkan tubuhku, berusaha melawan cengkraman air. Aku tak bisa bernafas, air ini membuat dadaku sesak. Aku tak tau lagi bagaimana keadaan Yuli. Mataku pedih dan tiba – tiba gelap.
Air mataku mengucur, tak bisa kuredam lagi rasa bersalahku. Bila bisa aku mengulang waktu. Tak akan kumengajaknya pergi kedanau, danau yang telah merenggut nyawanya.