Jumat, 11 Maret 2011

Kepergian Sahabatku

Yasin .......,
walqurannilhakim .......,
innakalaminalmursalin ...,
alasirotimmustakim ...,

Sayup - sayup suara menyapu gendang telingaku, terus menerus dengan fasih dan khusuknya melantunkan ayat - ayat itu. Begitu merdu kudengar, memberi ketenangan dalam batiku. perlahan kubuka mata, sejenak aku terpaku,
"Dimana aku? apa yang telah terjadi?" aku mencoba mengingat semuanya.
"Mamaaaaaaa...!," aku berteriak.
"Alhamdulillah, kamu sudah sadar nak. kamu tidak apa - apa?"
mama bergegas menghampiriku, kulihat kitap suci ditangannya. rasa lemas masih melanda tubuhku yang terbaring di atas ranjang kesayanganku.
"mana Yuli ma? dimana dia?, apa dia baik - baik saja??"
dengan cemas kata - kata itu keluar dari mulutku.

“Sabar  ya nak!” Mama mengelus rambutku.
“Ada apa ma?” Aku semakin cemas.
“Yuli telah menghadap yang kuasa , yang sabar ya nak mungkin ini sudah takdirnya.”
Petir menyambar tubuhku, meremukan tulang – tulang dan hampir memutuskan urat nadiku. Banjir bandang pun menerjang kelopak mataku, mengucur deras air mataku.
“innalilallhi wainailaihi roji’un”
Ya Allah benarkah yang ku dengar, tak kuasa aku menahan air mataku. Mengapa ini terjadi, andai saja aku bisa menyelamatkannya, mungkin dia tak akan pergi dengan keadaan seperti ini.
Aku ingat peristiwa itu, saat itu dia berteriak – teriak minta tolong mengejutkanku yang saat itu sedang duduk ditepi danau. Tak kulihat wajahnya hanya tangan melambai – lambai memanggilku untuk menjemputnya. Tanpa piker panjang aku langsung terjun ke danau . setelah aku berada dalam kubangan air aku baru menyadari kalau aku tidak bisa berenang. Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan, jangankan untuk menyelamatkan Yuli, aku saja tidak yakin aku akan selamat. Dalam rangkulan air tak kudengar lagi suaranya. Kini aku yang berusaha berteriak meminta tolong tapi aku tak mampu mengeluarkan suara. Aku berusaha menggerak – gerakkan tubuhku, berusaha melawan cengkraman air. Aku tak bisa bernafas, air ini membuat dadaku sesak. Aku tak tau lagi bagaimana keadaan Yuli. Mataku pedih dan tiba – tiba gelap.
Air mataku mengucur, tak bisa kuredam lagi rasa bersalahku. Bila bisa aku mengulang waktu. Tak akan kumengajaknya pergi kedanau, danau yang telah merenggut nyawanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar